Aku sadar aku emang egois, aku
kurang dewasa untuk menerima kenyataan dan menghadapi masalah terutama masalah
dalam diriku. Aku berfikir bahwa aku salah memilih pondok pesantren, tak
seperti yang aku bayangkan sebelumnya, harus menerima keadaan yang benar-benar
bikin aku harus sabar dan ikhlas untuk menjalani semua. Sempat aku menyesal
karena sempat prestasi ku kurang memuaskan. Padahal aku sudah mempaksakan
diriku untuk menghafal walaupun saat yang bersamaan aku berteriak “kapan ini berhenti
??” aku tak bisa mendaptkan pelajaran yang aku inginkan dengan memuaskan, dan
semua aku pendam dalam hati sambil berdo’a “walaupun sedikit tapi aku harap ini
bisa membantu dengan apa yang aku miliki”.
Aku bertanya dalam hatiku “kenapa
ibu tak memberiku pilihan ?” ibu hanya bertanya padaku “apakah kamu benar-benar
mau masuk pondok dan menerima semua resiko yang kamu hadapi disana ?” aku hanya
mengangguk diam dalam keraguankuu, memang aku yang meminta karena apa ?? karena
aku ingin berubah menjadi lebih baik. aku akui waktu SMP nilai pelajaranku
lumayan memuaskan bagi ayah sama ibu aku unggul dipelajaran Matematika walaupun
tak sehebat temanku tapi aku yakin aku memberikan yang terbaik. Tapi aku merasa
aku seperti cangkang kosong yang bagus luarnya tapi tak berisi apa-apa aku
merasa aku belum mempunyai iman yang kuat, dasar agama yang kokoh. Hingga
saatnya aku berfikir aku harus lebih baik dalam hal agamaku, selain itu aku
tertarik pada pondok pesantren yang sehari-harinya menggunakan bahasa arab dan
bahasa inggris. Aku masih ingat alasan aku masuk pondok karena aku ingin bisa
berbahasa arab dan inggris walaupun hanya sekedar tau.
Tantangan demi tantangan aku
lewati, suka duka, senang sedih, canda tawa, hingga berbagai cobaan yang tak
pernah aku duga sebelumnya. Aku merasakan bahwa aku gak bisa menjalani
semuanya, tetapi ayah dan ibu terus menyemangatiku terus meminta kepada Rabb
dalam shalatnya untuk aku bisa bertahan. Dan here I am up to know, walaupun
dengan kesabaran yang luar biasa. Aku sempat berfikir ini semua tak adil
bagiku, ibu hanya menanyakan tentang keyakinan ku untuk masuk pondok pesantren
tetapi tidak buat adikku, bagiku anis mendaptkan fasilitas pendidikan yang
baik. ibu dan ayah mendaftarkannya disekolah farmasi yang memang prospeknya
lebih cerah dibanding aku. Beliau mencarikan sekolah farmasi terbaik di
tangerang buat anis, walaupun ibu tau kalo anis tidak sepertiku tapi ibu yakin
bahwa anis bisa dan anis hanya menuruti apa kata ibu dan menjalani dengan
rajin. Sempat aku berfikir ini tuh gak adil !! kenapa ibu tak memberiku
kesempatan padaku untuk masuk sekolah kesehatan ???? kenapa aku harus
ditempatkan ditempat yang tak bisa buatku bergerak bebas ?? kenapa ditempatkan
ditempat yang aku sekarang tau susah buat mencari jalan keluar !! kamu tau
kenapa ?? aku merasa jatuh di palung laut yang paling dalam !!
Aku mencoba untuk keluar walaupun
nilai ku cukup untuk dibawa ke SMA negri walaupun gak unggulan tapi tetap saja
itu gak mungkin, ayahku bukan siapa-siapa kami keluarga yang cukup bukan lebih
dari cukup. Sedangkan murid yang emang bandel dan gak jelas dari sekolah mana
tetap diterima di pondokku ini walaupun nilainya jauh dibawah standart !! aku
sempat putus asa aku tak bisa mendapatkan yang aku mau, aku gak bisa belajar
matematika dengan waktu yang lama hanya 135 menit dalam seminggu, ditambah lagi
guru-guru master yang mengajarkan disekolahku sangat sibuk, aku hanya bisa
mengelus dada semoga aku beruntung dan dengan ilmu yang sedikit ini aku bisa
mengajak santri dan santriwati lebih suka kepada pelajaran yang dibilang
terlalu rumit untuk dimengerti.
Dan akhirnya aku terpilih sebagai
sekretaris hanya karena satu, aku unggul dalam computer dalam mengolah
Microsoft office walaupun aku gak tau gimana cara buat surat resmi apalagi buat
proposal kegiatan. Tapi disinilah aku mulai bersikap dewasa aku mulai aktif
dalam organisasi dalam kesekretariatan dalam admin organisasi. Dan aku
mempunyai banyak pengalaman yang gak pernah aku alamin diluar, aku lebih bisa
mengerti bagaimana sifat teman-temanku yang mempunyai karakter yang sangat
berbeda satu sama lain. Aku belajar dan belajar mempelajari computer, aku
bersyukur hanya sgelintir orang yang bisa untuk menggunakannya dan sampai
akhirnya aku berusaha untuk mengingat kembali pelajaran editor phot yang aku
pelajari sendiri dirumah.
And finally aku bisa menjadikan
diriku manfaat walaupun gak besar tapi aku senang, kamu tau kenapa ?? aku
bahagia karena aku bisa menjadikan diriku bermanfaat bagi orang lain turun
langsung kelapangan menghadapi masalah. Dan yang aku tau ibu sekarang
membebankanku untuk aku berjuang masuk keperguruan tinggin negri yang memang
harus ekstra untuk bisa meraih hal itu. Aku sudah pupus untuk medaptkan
beasiswa ke turkey memang bukan jalanku aku hanya ingin belajar matematika dan
MIPA lebih dalam lagi. Dan aku yakin aku bisa. Maafin nida bu pernah berfikiran
kayak gitu. Nida tuh kayak gak ada harapan lagi nida udah lelah merasakan
seperti ini. Tapi aku kayak gini mulu, mengeluh dengan apa yang udah terjadi
hanya bikin aku tambah nge down. Dan sekarang aku hanya berdo’a kepada Allah
supaya aku mendapatkan ilmu sabar dan ikhlas yang lebih untuk bisa menerima
kenyataan dan menjalani hidup ini dengan mensyukuri apa yang Allah tentukan J
*)ditulis pada tanggal 30 Oktober
2012 dan dipostingkan pada hari ini
