Dalam pikiranku “aku harus bisa
berubah menjadi yang lebih baik ! ”
Tekadku waktu SMP untuk
memutuskan masuk ke pondok pesantren, memilih sekolah yang mempunyai nilai
agama yang cukup ditinggi, dipikiranku pesantren selain belajar kita juga bisa
belajar agama, rajin shalat tepat waktu, belajar fiqih, bahasa arab.
Tetapi aku baru mengetahui semua
itu bukan ada dalam pikiran ku, yang aku lihat sekarang “santri banyak, kamar
yang sempit, santri gak keurus, ujian sebulan, pelajaran banyak” it’s really so
amazing. Allah sayang banger sama aku ampe dikasih cobaan dengan lingkungan
seperti ini. Dewasa yaa aku sedang melalui tahap itu walapun masih ngebandingin
dengan apa yang aku dapatkan disini dan apa yang aku dapatkan diluar, dan ngebandingin
diriku dan adikku yang lebih beruntung dibanding aku. Padahal aku gak suka
dibanding-bandingkan oleh ibuku dengan orang lain.
Dan sekarang I’m in here just be
patience girl :)
bersyukur punya temen-temen yang dewasa, rajin, dan nyemangatin satu sama lain
walaupun emang kadang-kadang kelakuannya aneh dan susah ditebak. Dibilang iri
aku iri sama adikku, wajarlah iri sama saudara sendiri. Dari anaknya Nabi adham
juga udah timbul rasa iri terhadap sesame saudara. Aku tau dia lebih baik dari
pada aku disegala aspek, rajin, penurut, apik, hemat, cantik, walaupun dia
tidak sepertiku masuk SMP Favorite, cepet tanggap buat pelajaran MTK, IPA, IPS,
dan Bahasa Inggris
But my mom, ibu gak ngasih
pilihan buat aku. Ibu hanya menanyakan kesiapan aku untuk masuk pondok dan gak
ngasih pilihan yang lain selain itu dan gak sedikitpun menawarkan diriku untuk
mendaftar di SMA padahal nem ku mencukupi untuk masuk SMA favorite, kalaupun
iya mungkin aku yang mengurus semuanya sendiri karena ayah dan ibu sibuk
mengurus adikku yang masuk SMP dan memperjuangkan dia untuk bisa masuk dinegri.
Sampe akhirnya dia kelas 3 SMP ayah dan ibu sibuk nyariin brosur tentang
sekolah kesehatan yang terbaik di tangerang sedangkan adikku kekeuh untuk masuk
SMK tata boga dan finally dia harus menuruti apa kata ibu mask sekolah farmasi.
Seenggaknya prospek adikku lebih cerah dibandingkan aku karena tanteku
mempunyai link tentang pekerjaan dibidang farmasi. Sedangkan aku ..
Ibu menuntutku untuk aku bisa
langsung kerja kali aja bisa kerja sambil kuliah yang jelas-jelas aku tak bisa
membagi waktukku dengan baik. dan ayah dan ibu memilih pondok ini hanya karena
terjangkau oleh keluarga ayah yang emang kebetulan penduduk asli, tanpa ibu
sama ayah tau dimana bidangku berada dan tanpa mengetahui bagaimana fasilitas,
kualitas belajar, kualitas santrinya disini. And finally aku harus menerima
semua dengan kata IKHLAS yang sulit aku jalani dan menjalani semua hingga akhir
dengan kata SABAR yang penuh perjuangan.
*) ditulis pada tanggal 27
Oktober dan dipostingkan pada hari ini
