Minggu, 13 Agustus 2017

KEMERDEKAAN



bentar lagi tujuh belasan yaa

kemerdekaan Negara Indonesia yang ke 72 tahun
kali ini gue bakal nulis tentang tokoh untuk tema kemerdekaan (lagi mencoba tulisan dengan sudut pandang gue sebagai masyarakat Indonesia eeeaaa)


Kemerdekaan identik dengan pahlawan proklamator kita Ir. Soekarno dan Moh Hatta
cuman kali ini gue mau ngebahas proklamator penetapan "Perayaan hari Imlek sebagai hari libur Nasional"
yap, gak salah lagi yaitu guru besar kaum Nahdiyin KH. Abdurrahman Wahid  atau yang biasa kita sebut Gus Dur, b
eliau lahir di Jombang tahun 1940.

kalo memngungkit sejarahnya mba yai Gus Dur ini pasti banyak di Internet, karya-karya beliau lewat tulisan dan guyonan juga pasti banyak kalian cari di internet. cuman kenapa sih gue nulis tokoh yang disebut "Bapak Kaum Minoritas"

yang lebih gue tekankan disini pada keputusan mbah yai untuk menetapkan perayaan imlek sebagai hari libur nasional, karena ketika zaman pak Harto dilarangnya hal-hal berbau komunis. cuman untuk mbah yai mempunyai pandangan lain. Gus Dur adalah tokoh agamawan dan juga budayawan. Gagasan dan Pemikirannya yang selalu di guyonkan dengan kata "Gitu Aja Kok Repot" membuat kita gak terlalu memungsingkan kedepannya. Memang banyak positif dan negatifnya karena selama ini budaya adat Indonesia dan masyarakatnya dengan berbagai macam pandangan membuat semua keputusan untuk pemimpin menjadi rumit.

Gus Dur membawa hawa baru untuk meningkatkan toleransi kepada umat beragama dan dengan budaya yang ada. Karena semua pemikiran Gus Dur yang begitu simple namun luas, beliau satu-satunya kiyai yang dibaptis di Gereja, datang ke vihara. bukan karena multi religion (apa sih bahasa gua) karena kaum minoritas yang menghargai dan menghormati Gus Dur. Awal pemikiran gue waktu diceritain sama ibu tentang gus Dur yang di Baptis dan datang ke vihara adalah 'itu orang islam kok mau aja di baptis" hahahahahaha terlalu sempit yaaa, selama keyakinan dalem hati kita masih tetep satudan syahadat selalu diulang ketika solat gak mempengaruhi donk. Itu hanya bentuk penghormatan para tokoh agama kepada "Bapak Kamu Minoritas" ini. Gus Dur mencoba dengan merukunkan umat dalam segi agama, budaya, dan etnis-etnis yang ada.
Tidak seperti sekarang yang selalu memecah belah dengan nama agama, bukan menyatukan dan menciptakan perdamaian dengan agama.

Sekian tulisan dari gue, kalo memang ada yang tidak setuju itu mungkin hal yang wajar karena adanya perbedaan sudut pandang dan opini masing-masing. Terima Kasih.

kamu pembaca yang ke -

About Me

Foto Saya
Nida Nabilah
Tangerang, Banten, Indonesia
hanya menuangkan kisah-kisah yang mungkin bisa di ambil hikmahnya
Lihat profil lengkapku

FRIENDS